Perkembangan Mobil Toyota Generasi III

Pada 1986, model Toyota Kijang generasi III dilempar ke pasaran. Kijang generasi ini wujudnya lebih melengkung pada lekukannya sehingga tampak lebih modern. Figur ini sampai ketika ini masih banyak digunakan di jalur di Indonesia sedangkan tak lagi diproduksi karoseri ambulance.

Karoseri Ambulance

Pada generasi ini, konsep Kijang sebagai kendaraan angkut mulai bergeser sebagai kendaraan penumpang sekalipun banyak Kijang generasi sebelumnya juga dimodifikasi sebagai kendaraan penumpang. Pada generasi ini juga masih terdapat varian pick up, sedangkan tak lagi menjadi konsep utama Toyota Kijang seperti generasi sebelumnya. Di zaman/masa ini, bisa dikatakan sebagai generasi kejayaan Kijang sebagai mobil penumpang, terpenting sebelum banyak mobil penumpang Built Up impor meramaikan pasar kendaraan di Indonesia serta puncak dominasi Toyota atas model-model kuat seperti Mitsubishi Colt L300 dan minibus tanpa bonnet lainnya seperti Suzuki Carry dan Daihatsu Zebra di mana Kijang menjadi opsi kuat konsumen ketika itu. Toyota mengeluarkan dua variasi Kijang pada generasi ini yakni variasi Super Kijang dan Grand Extra dengan memiliki life cycle cukup panjang (lebih dari satu dekade) dibandingkan generasi sebelumnya.

Desain mobil ini memiliki wujud lebih manis dan halus dibandingkan generasi lalu yang kaku mirip kotak sabun. Teknologi full pressed body dikenalkan untuk menekan pemakaian dempul dalam pelaksanaan pembuatannya sampai 2–5 kg dempul per mobil. Mesin pada awal generasi ini masih memakai variasi 5K melainkan memiliki energi kuda (horse power) yang lebih tinggi yakni 63 telepon pintar dari sebelumnya 61 telepon pintar. Transmisi mayat menghadirkan 5 percepatan, dan 4 percepatan, yang sebelumnya cuma memakai 4 percepatan.

Pada generasi ketiga ini, Toyota Kijang memiliki varian yang cukup luas. Varian Commando, dan Ranger. varian Commando sebagai ciri Toyota kijang ini memiliki \\\’4 pintu\\\’ dengan plihan :

Commando LSX (Kf50 : 5 speed, Rem cakram depan).
Commando SSX (KF40 : 5 speed, Rem cakram depan).
Commando LX (KF50 : 4 speed).
Commando SX (KF40 : 4 speed).
Ada pula Varian \\\”Ranger\\\” yang memiliki ciri memiliki \\\’3 pintu\\\’ dengan kode sasis \\\’KF40\\\’, dan memiliki cara percepatan 5speed (SSX), serta memakai cara penghenti laju rem cakram pada bagian depan. Varian 3 pintu ini amat jarang ditemukan, sebab diproduksi cuma selama 3 tahun, antara 1987 sampai 1990 .

Peluncuran logo baru Toyota pada November 1989, yang menjadi ciri khas mobil Toyota sampai ketika ini. Berikutnya pada tahun 1991, Super Kijang mengalami perubahan pada cara kemudi \\\’Rack & pinion\\\’ agar cara kemudi lebih ringan, dan penyempurnaan pada Axle 3 kople untuk mengurangi getaran. Serta penambahan power steering. Super Kijang tersedia sampai Juni 1993.

Setelah Agustus 1992, Toyota menjelang generasi pembetulan bodi mobil yang disebut sebagai Toyota Original Body. Sebuah pelaksanaan pembuatan bodi mobil dengan mesin press dan cara las titik. Sampai ketika ini, bisa dikatakan satu-satunya Kijang yang bebas dempul. Pada masa ini terjadi perubahan letak tangki bensin yang awalnya berada di bawah bemper belakang menjadi di tengah samping kiri, sedangkan posisi ban serep yang semula diletakan di tengah samping kiri dipindah menjadi di bawah bemper belakang.

Sementara untuk versi Deluxe (Toyota Kijang G) terdapat perubahan terpenting pada lampu depan, grill, dan ditambahkan power steering pada kemudi yang meringankan pengemudi. versi Grand Extra (sebagai Varian Tertinggi) memiliki ciri penamaan LGX (Long Grand Xtra) SGX (Short Grand Xtra) terdapat penambahan tachometer, penambahan fender, Power Window, Alloy Wheel bermerek Enkei, dan AC double blower.

Pada bulan April 1995 terdapat penambahan variasi mesin yakni variasi 7K berkapasitas 1800 cc (naik 300 cc) yang lebih bertenaga, serta diberhentikan produksinya varian mesin 5k pada tahun yang sama juga.

Selain itu, Toyota Kijang generasi ketiga juga menyediakan banyak jangka varian seperti : LX, LSX, LGX (untuk sasis panjang) SX, SSX, SGX (untuk sasis pendek), khusus LX, SX (Kijang Standar) dan pick up transmisi memakai 4 percepatan dan memakai dashboard konvensional ala Super Kijang, serta penghenti laju rem tromol.

Selain variasi-variasi hal yang demikian diatas juga terdapat beberapa variasi buatan karoseri lokal, yakni Rover (berubah menjadi RoverAce setelah mendapatkan keberatan dari produsen mobil Rover, Inggris), Jantan (Roda Nada Karya), dan Toyota Kencana. Raider dan Jantan kebanyakan memakai sasis panjang, Rover sasis pendek, dan Toyota Kencana memiliki atap yang lebih tinggi dibanding Kijang umumnya.

Sampai ketika ini, Toyota Kijang ketiga (bagus seri Super dan Grand Extra) masih banyak di pasaran mobil di Indonesia dan masih dihargai mahal.

Toyota Kijang Soeharto Series

Pada menjelang akhir-akhir Toyota Kijang ketiga, kaprah-kaprah tahun 1995-1996, varian Toyota Kijang Soeharto Series diluncurkan dalam rangka memperingati 50 Tahun Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1995. Formatnya masih sama dengan varian Grand Extra. Cuma yang membedakan dengan seri reguler yakni seri ini yakni seri pertama Toyota Kijang yang memakai transmisi otomatis 4 percepatan. Varian ini juga dimaksimalkan untuk merayakan 75 Tahun Pak Harto (1921-1996) dengan nama Toyota Kijang Soeharto Series II. Penamaan seri Soeharto ini dikarenakan Soeharto juga ikut andil dalam meluncurkan Toyota Kijang pada tahun 1975. Harganya malah lebih mahal dari seri reguler, malah mencapai Rp 100 juta/unit. Walaupun permintaan akan seri ini cukup tinggi, melainkan ketika ini seri Toyota Kijang ini langka sebab cuma diproduksi dari tahun 1995-1996. Dengan diluncurkannya Toyota Kijang ini, makin mengukuhkan namanya menjadi kendaraan niaga buatan rakyat Indonesia untuk masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *